5/28/2013

( LANJ. 25 ) PEMUDA BERJANGGUT ARTI SEBUAH PENGABDIAN , KESETIAAN SEORANG ABDI PENUH KEMULIAAN

KUMARA MENJEMPUT MAUT SEORANG DIRI




Ular lainnya melilitkan ekornya ke tubuh Kumara, Kumara berteriak kesakitan , sekujur tubuhnya terlilit badan ular munkin ini hukuman untuk Kumara. Racun atas bisa sang ular mulai menyebar keseluruh tubuh Kumara, semua kaki Kumara membiru  keringat mengucur dari tubuh Kumara namun Kumara hanya dapat pasrah, Dengan rasa putus asa Kumara tersenyum.

( R. Angkawijaya ) Wahai ular mungkin sudah begitu lama kalian mengiginkan mencicipi darahku. Kini aku sendiri jadi gigit diriku , panggil semua sahabatmu kau dapat mengigitku dan menghabisi darah dalam tubuhku tidak akam ada yang memburumu, aku tidak akan membunuh kalian , mungkinkah diriku dapat binasa dengan racun kalian.

( Ular Ragani ) Raden maafkan kami  keinginan hati kami mencicipi darah raden sungguh menyiksa darah raden sungguh memiliki rasa sungguh manis aromanya sungguh harum nan wangi  darah ini nampak bukan darah manusia , raden sungguh dewakah ? Raden segeralah bunuh kami lekas ambil empedu dalam tubuh kami agar raden segera menelan, percaya raden dapat kembali hidup dan raden tidak dapat terkena racun para ular selamanya lakukan raden , tubuh raden kian membiru racunku berkehendak lain raden dapat binasa.

( R. Angkawijaya ) Ular pergilah jauh sebelum kalian di buru para manusia, aku bahagia dapat memuaskan para sahabat.

( Ular Ragani ) Mohon jangan seperti itu raden, dosa akan membayangi hidup kami, bunuh kami raden , tusuk kami menggunakan tombak raden , raden sadarlah !
Sang ular resah Kumara sungguh kesakitan wajah kian membiru namun kumara merasa bahagia seandai dapat binasa akan menolong para ular kelaparan.Namun sang ular merasa menyesal atas rasa lapar dan keinginan batin mencicipi darah sang kesatria , para ular dapat kembali berubah sebagai begawan, hati para ular sungguh tak tega melihat raden harus kesakitan di hadapannya.

Nampak dari jauh batin Suromangun ada rasa sungguh tak tega hati meninggalkan sang momongan namun harus dilakukan . Sesaat Suromangun menghentikan langkah kudanya. Semilir angin mengayuh dedaunan hati sang abdi resah.Tanpa sadar Indra pendengaran Suromangun ( Pemuda berjanggut ) menangkap suara kesakitan. Suromangun memperjelas indra pendengarannya. Suara rintihan sungguh jauh, nampaknya seseorang butuh bantuan. Rintihan semakin jelas terdengar. Hati Suromangun bimbang kalau batin bertanya siapa sesungguhnya yang sungguh menderita ? Karena ragu juga nampak tidak pasti Suromangun menggunakan mata batin untuk melihat siapa yang kesakitan. Sungguh terkejut Suromangun melihat momongannya kesakitan, diantara bebatuan nampak sekujur tubuhnya membiru, akan racun bekas gigitan ular sungai . Suromangun segera membawa langkah kudanya kembali arah menuju Pasundan menolong Radennya.

( Suromangun ) Raden maafkan hamba sungguh bodoh telah tega meninggalkan Raden, bertahan raden ! Hamba segera datang jangan pernah berani meninggalkan hamba raden berjanjilah untuk bertahan dasar ular – ular keparat berani mengigit radenku sama dengan kalian ingin binasa di ujung mata pedangku.

Dengan terus melaju Suromangun terus menjumpai para ular raksasa jelmaan para begawan air mata suromangun terus menetes melihat wajah radennya tengah kesakitan menahan racun dalam tubuhnya. Harapan sang pelayan hanya dapat segera menyelamatkan momongannya dari bahaya.

Sampailah sang abdi pada tempat tujuan, Suromangun terus mencari keberadaan momongannya . Mata terus mencari sebuah batu besar terlihat pemuda berbaring diatas bebatuan.

( Suromangun ) Raden hamba datang kenapa jadi seperti ini, jangan tinggalkan hamba, tenang raden hamba segera keluarkan  racun dari tubuh raden.

Dengan segera Suromangun menyalurkan tenaga dalam pada telapak tangan Kumara keluar cahaya putih dari tangan keduanya , Kumara menggeliat bagai cacing diatas api . Para ular menyaksikan Suromangun segera mematikan semua aliran darah Kumara. Suromangun membuat Kumara memuntahkan semua racun dalam tubuhnya kembali Suromangun kembali menutup aliran darah Kumara sampai akhirnya Kumara tersadar kian membuka mata. Lepas dari bahaya hati Suromangun Bahagia. Dia dapat kembali melihat momongannya.

( R. Angkawijaya ) Kau kembali ? Sungguh dirimu kembali kau kah itu suromangun ?

( Suromangun ) Benar Raden . Di hadapan raden sungguh hamba yang begitu bodoh sampai membuat raden celaka. Hukumlah hamba. Raden untuk hal apa sampai raden berada di sungai kenapa raden beri ijin para ular jadi – jadian itu menggigit ?

( R. Angkawijaya ) Aku datang kesini untuk mengejarmu namun tidak sampai , kau benar – benar pergi aku membiarkan para ular mengigitku karena mereka  butuh keabadian aku hanya ingin menolong agar para ular dapat kembali kewujut sesungguhnya jangan bunuh mereka biarkan para ular itu pergi suromangun.

( Suromangun ) Hamba harus mengambil penawar racun ada di dalam tubuh mereka walau dengan cara harus membunuh begawan ini. Kalian sudah lancang menyakiti radenku berulang kali aku katakan jangan sentuh radenku, kalian tak jera akan perintahku, ini kalian inginkan pedangku dapat mengakhiri hidup kalian.

Suromangun mengayunkan pedangnya ke arah para ular. Kedua ular hanya diam tidak melawan atau pun lari, dengan cepat pedang Suromangun dapat memotong leher kedua ular  dari tubuhnya , menyaksikan itu kumara sungguh terkejut ia memalingkan wajahnya tak ada niat hati menyaksikan kejadian Suromangun membelah empedu penawar racun para ular.

( Suromangun ) Raden segera telan empedu ini , empedu ular ini penawar racun dalam tubuh raden, agar raden kelak tidak dapat terkena racun apabila ular lain menggigit.

( R. Angkawijaya ) Empedu ini sungguh pahit aku tidak dapat memakannya aku tidak mau.

( Suromangun ) Lakukan raden racun para ular itu sungguh berbahaya, lalaikan demi ayah raden

( R. Angkawijaya ) Baiklah , demi ayahku aku lalaikan, dengan memejam mata

Kumara memejamkan menelan empedu kedua ular, agar racun dalam tubuhnya tidak dapat terus merusak aliran darah. Dengan segera Kumara memeluk sang abdi

( R. Angkawijaya ) Aku berhutang nyawa padamu tanpa kedantanganmu entah apa dapat terjadi padaku.

(Suromangun ) Raden hamba hanya menjalankan tugas melindungi raden sebisa hamba, itu makna kasih sayang , mari raden hamba bantu naik ke atas punggung si belang hamba bawa raden ke Pasundan.

( R. Angkawijaya ) Baik kau harus berjanji apapun aku berkata jangan pernah pergi meninggalkan aku seperti saat ini, aku dapat menghukummu.

( Suromangun ) Hamba raden..

Kasih sayang nampak jelas dari sang abdi, masihkah ada manusia semulia pelayan Kumara, Suromangun sosok ayah tak terganti kasihnya untuk kumara sepenuh jiwa , hati raga bahkan nyawa segala hanya untuk Kumara sang putra Indra. Kumara menyimpan dalam kasihnya untuk Suromangun , sesampainya di depan gubuk  raden Purbaya terkejut  melihat Suromangun memapah putranya.

Kisah Pemuda Berjanggut sengaja saya angkat di dalam tulisan blog saya, agar kita tahu siapa sosok Pemuda Berjanggut dalam Uga Siliwangi. Ia seorang pelayan namun di satu sisi ia adalah figur ayah untuk sang putra Indra. Jika kita bandingkan dimasa sekarang apakah ada sosok seperti Suromangun ? Di dalam tulisan ini juga dapat kita lihat bagaimana sifat keras Kumara terhadap pelayannya dalam serat Jayabaya Putra Indra disebut Berwatak Baladewa.

Tidak ada komentar: