5/17/2013

( LANJ. 23 ) PEMUDA BERJANGGUT

MENGENANG KISAH PELAYAN SETIA
SANG PUTRA INDRA


Kita mungkin sering bertanya - tanya siapakah pemuda berjanggut dalam Uga Siliwangi ?  Nama pemuda berjanggut diambil dari kisah pasundan ia hanyalah seorang pelayan. Seorang abdi yang begitu berjasa merawat Dan membesarkan putra Indra ( Bocah pengembala ). Sejak menemukannya di kandang sapi pemuda berjanggut bersumpah akan hidupnya untuk mengabdi selamanya kepada sang putra Indra.

Mengapa nama beliau diabadikan dalam syair  - syair Pasundan ? Kesetiaan, pengabdian, kesabaran dan kasih sayang beliau tidak pernah ada tandingnya dalam sejarah kehidupan. Dari masa muda hingga tua ia selalu setia mengabdi kepada penghuni gubug jerami bahkan ketika ajal menjemputnya ia tetap setia menemaninya R. Angkawijaya tenggelam bersama Pasundan. Sungguh tragis hidup sang pelayan ini tidak memiliki sanak keluarga pengabdiannya yang tulus adalah sebagai balas jasa kepada R. Purbaya dan Dewi Cempaka akan menyelamatkan hidupnya. Segenggam bekal terakhir yang dibawa R. Purbaya telah menyelamatkan hidupnya dari kematian. Ia bersujut kepada R. Purbaya dan Dewi Cempaka agar ia dapat diterima mengabdi untuk membalas pertolongan mereka.

R. Purbaya bersama Dewi Cempaka dan Suromangun ( Pemuda berjanggut ) berjalan bersama - sama, tujuan mereka sama yaitu mencari tempat tinggal  sementara untuk mereka tempati. Dengan ilmu kanuragan yang ia miliki Suromangun senantiasa menjaga R. Purbaya dan Dewi Cempaka ia sekaligus menjadi pengawal setia junjungan mereka. Setiap hari mereka bertiga berjalan beriringan hanya seekor sapi yang menemani  perjalanan mereka. Suromangun berjalan sambil menuntun sapi sedangkan diatasnya R. Purbaya dan Dewi Cempaka duduk diatasnya.

Hingga suatu hari mereka tiba disuatu tempat sebuah tepian danau di tepi hutan pasundan. Mereka segera membuat sebuah gubuk dari dedaunan. Namun malang belum selesai mereka membangun tempat tersebut hujan turun dengan lebatnya, gubuk yang mereka buat hancur diterpa hujan dan angin, selama satu malam mereka kehujanan dan api yang mereka buat pun padam. Itulah awal kehidupan para penghuni gubuk jerami saat harus mengalami masa - masa sulit menjadi orang pertama yang menempati tepi hutan Pasundan. Setiap hari bahaya selalu mengincar mereka,  binatang buas selalu mengintai,  mereka tidak boleh lengah,namun mereka tetap tenang sebab R. Purbaya memiliki sebilah pusaka yaitu sebuah kujang yang dapat melindungi mereka dari para pemangsa binatang buas. Berikut ini sekilas kisah kehidupan Pemuda Berjanggut bersama sang Putra Sunda yang saya tulis di blog sederhana ini agar kita dapat mengenang siapa sosok beliau sesungguhnya ....




Lanjutan....

Kumara tumbuh diantara kasih sayang penduduk Pasundan. Paras nan elok mata sungguh nan membiru dapat memabukkan para siapa memandang itu Sang putra sunda ada diantara rakyat terkasih .

( Pemuda berjanggut ) Raden sungguh hamba mencari Raden kian kemari apa sedang raden lihat dihutan ini ?

( R. Angkawijaya ) Kenangan para bocah pengembala, hai kau apa tau suara mereka sungguh sangat dapat kudengar. Sungguh nyaring didalam sukma saat ini, aku merasa dapat melihat wajah mereka di dalam hutan ini. Kini rasa hati dalam diri tersadar bahwa kehilangan ada rasa sungguh pilu tak dapat mendapat penawar hati diriku kesepian maka dari itu aku datang ketempat ini.

( Pemuda berjanggut ) Sungguh raden benar, hamba akan selalu menemani raden, mungki hamba tidak dapat gantikan para bocah pengembalanamun hamba dapat mengabdikan jiwa bahkan raga hamba untuk raden. Mohon terima mimpi hamba di dalam hati.

( R. Angkawijaya ) Sudah jangan kau kesini diriku dengan hatimu hanya dapat di mengerti dengan kasih tapi aku hanya dapat dipahami oelh hati yang sungguh suci itulah diriku maka jangan kau kasihi diriku namun  jagalah kesucian hatiku, aku dapat menerimanya.

( Pemuda berjanggut ) Apa mungkin hatimu sekeras itu apa mungkin  tidak ada balas mengasihi hamba atas semua kasih hamba berikan buat raden, kenapa raden hanya dapat menyakiti hati hamba . Apa kasih hamba dimata raden hanya hanya mempersulit hidup dan langkah raden maafkan hamba. Hamba dapat mengerti hati raden hamba mohon diri.

Suromangun ( Pemuda berjanggut ) berlalu dengan tetesan air mata, hatinya sakit namun pemuda separuh baya itu hanya memendam kecewa hati. Suromangun tidak pernah tau bahwa momongannya sungguh memiliki hati dia inginkan Raden hanya memandang kepergian  pelayan setia sang tuannya. Kumara sungguh harus tega melakukan itu . Kumara ingin Suromangun memiliki mimpinya tidak terus menjaganya. 

Raden purbaya sungguh menunggu kedatangan sang abdi , ada maksud ingin mengatakan keinginan hati. Dari Jauh nampak Suromangun menundukkan kepalanya langkah sungguh lelah wajah sungguh murung.

( R. Purbaya ) Suromangun kau dari mana ? ada apa dengan wajahmu sungguh bersedih kau menangis ? apa raden menyakiti hatimu lagi ? katakan padaku ?

( Pemuda berjanggut ) Tuanku hamba tidak merasa sakit hamba hanya bingung kenapa hamba sungguh sayang kepada raden hamba lupa kini raden sudah dewasa . Bukan lagi momongan hamba yang sungguh lucu. Waktu itu sudah pergi. 
Hamba menangis dikarenakan rasa sayang hamba tuanku , apa hamba sungguh jahat ? Kenapa hamba membuat raden sungguh menderita , mungkinkah kasih sayang saya hamba untuk raden salah ? Kenapa tuanku kasih hamba menjadikan derita untuk raden ? Hamba sungguh tidak berguna.

( R. Purbaya ) Suromangun maafkan putraku kau memiliki hati sungguh mulia kau merawat putraku , dirimu mengorbankan segalanya  demi raden, aku yang sungguh tak dapat membalas padamu. Suromangun balas budimu padaku sudah cukup waktunya dirimu melanjutkan hidup, kau tidak harus terus mengabdi kepadaku . Hidupmu harus terus berlanjut aku tidak dapat memberimu apa - apa, kau dengar aku diluar sanan banyak kebahagiaan. Kebebasan akan kau dapat , jangan terus menjagaku , raden kami sudah dewasa kau pastinya sangat lelah aku melepasmu suromangun pergilah lanjutkan hidupmu.

( Pemuda berjanggut ) Tuanku kemana hamba harus pergi masihkah ada rumah dapat menerima hamba bagai digubuk jerami ini hamba sungguh tidak tau , terus hidup seperti apa jauh dari tuanku , hamba ingin namun hamba tak sanggup ...

( R. Purbaya ) Lanjutkan hidupmu masih banyak perjalanan kau harus lalui tidak berhenti disini saja . aku hanya dapat memberimu restu jaga dirimu baik - baik dan jangan pernah kembali lagi bawa sibelang pergi bersamamu dia akan menjadi teman di perjalanan , hanya itu dapat ku berikan jangan menengok lagi kebelakang lanjutkan arah langkahmu .......

Tidak ada komentar: