1/10/2013

BUNGA TUNJUNG PUTIH

Misteri Bunga Tunjung Putih


Banyak orang tengah menanti kehadiran sosok Bunga Tunjung Putih, namun pernahkah kita mencari arti bunga tersebut.


Bunga Tunjung Putih adalah lambang kesucian para Dewa di Khayangan , disebut putih karena bunga tersebut tumbuh di kolam susu , bunga Tunjung Putih adalah teratai Talavorga Avarchana istana milik Dewa Indra, Bunga yang berbentuk Cristal dengan cahaya berkilauan hingga suatu hari bunga tersebut hilang dari tempatnya. Cerita yang saya tulis ini mengangkat dari salah satu kisah yang tertulis dalam kitab Kuno yaitu Weda, disana di kisahkan keadaan tanah Jawa pada masa purba , dan dimasa tersebut ditanah Jawa ditempati para Budha langit pertama mereka mensucikan diri menempuh ujian di dunia untuk  menunggu waktu diangkat  menuju Nirwana.  

Kisah ini juga sedikit menguak tabir isi  Serat milik Gusti Prabu Jayabaya :

“ Dene besuk nuli ana, Tekane kang Tunjung putih, semune Pudhak kasungsang,  




BUNGA TUNJUNG PUTIH


 ELANG EMAS RAKSASA

Pada jaman dahulu kala Dewa dan manusia bersatu saling menyapa saling memuja. Sebuah kisah diangkat dari sejarah masa lalu. Sebuah kisah tersembunyi penuh dengan misteri kala tak mampu batin dimengerti . Para Dewa saling bersinggahan kian bagai kupu – kupu surga. Sejatinya karena Dewa menguasai segalanya, pemikiran kian bagai penguasa jaman dimana tanah Jawa dikuasai para Bhiksu. Dengan alunan kitab kitab Budha dan Weda menyebar arti dari memuja para Dewa. Budha pada jaman dahulu kala mengabdikan  dengan hati mulia manusia yang di muliakan.

Sampai pada suatu hari Dewa turun mencari ketenangan nan singgah di bebatuan Dha Hyang. Candi terdiri dari beberapa bebatuan tertata bagai  Prasasti  Sang Dewa. Persinggahan nan amat bersembunyi hanya berselimut kabut seakan menyimpan berjuta kisah didalamnya. 

Bermula pada abad  jauh sebelum masehi , pada mulanya terjadi sebuah kisah, bermula dalam suatu pertemuan dengan seekor elang raksasa bersayap emas gagah nan elok. Elang hinggap diatas bebatuan Nampak keindahan sayap sang elang terlihat bagai Raja , kian berani sang Elang menatap cakrawala, Elang bermata biru.

Engkau elang ranting bertanya dari mana dirimu berasal?, wahai Elang Emas dedaunan bertanya siapa sejatinya dirimu ? Tanpa menjawab Sang Elang terbang, Gerangan mencari tau siapa elang itu, ia terbang dan menghilang dengan cepat , Elang terus mencari sampai pada tempat di tuju Sang Elang berhenti diatas prasasti sang Indra .

Para Bhiksu yang menyaksikan langsung bergegas menangkap Sang Elang, satu persatu para Bhiksu terjatuh saling bertabrakan. Keadaan menjadi kacau balau akan ulah sang Elang, dengan penuh hati dan kasih paman Bhiksu mendekati Sang Elang. Paman Bhiksu membelai sayap emas sang Elang dan membisikkan kata pada Elang.

( Paman Bhiksu ) Wahai Elang turunlah jangan engkau berdiri diatas prasasti sang Indra beliau penguasa Mayapada turunlah.

( Elang ) Tidak bolehkah aku berdiri disini, mungkin Indra sendiri tidak keberatan karena diriku sesungguhnya utusan Sang Indra, selalu kami dengar doa kalian atas restu Sang Indra aku datang pada kalian menyampaikan pesan dari Tuanku Indra.

( Paman Bhiksu ) Sungguh mulia Sang Maha Indra mendengar doa para Bhiksu meminta. Kami percaya Sang Indra Maha diatas segalanya. Salam kami para Bhiksu untukmu Elang, kami menyambutmu di peristirahatan kami, mari masuk ke dalam candi kami para Bhiksu akan mengantar elang  untuk beristirahat.

( Elang ) Aku sangat bahagia bertemu kalian, kalian begitu memuja Sang Indra, begitu tulus hati kalian para Bhiksu mengagumi Sang Indra, Siapa pembuat Prasasti  Dewa Indra ?

( Paman Bhiksu ) Prasasti Dewa Indra para Bhiksu yang membuatnya untuk mengenang kesucian Sang Indra.


( Elang )  Dimana Diriku akan beristirahat apa para Bhiksu Sudah menyiapkan semua ?

( Paman Bhiksu ) Sudah Elang, sebagai utusan Indra tidak mungkin para Bhiksu membuat batu ini Nampak menyerupai teratai Sang Indra.  Disini tempatmu Elang kau tidak keberatan mungkin tak sama persis dengan teratai Sang Indra, setidaknya bebatuan ini persembahan para Bhiksu untuk dewa Indra.

( Elang ) Aku elang mengucap salam atas kemurahan hati para Bhiksu  Salamku untuk paman Bhiksu. Elang mulai berfikir bahwa para Bhiksu ini sudah jauh terkagum kagum akan kebesaran nama Indra, sampai sampai teratai tempat  duduk Indra ada di Candi tempat para  Bhiksu ini tinggal.
               
 Elang mencoba memejamkan mata, malam mulai datang kesunyian terasa menyelimuti keseluruhan dinding candi, gelap dingin kian menyentuh tubuh sang Elang, gerangan ada apa Sang Elang terus terjaga ,dari bilik dinding  terdengar suara tetesan air . Elang terdiam arah mata Elang terus mengarah akan tanda bahaya. Elang terdiam dalam malam dan berlalu hingga pagi menyambut , tanpa terasa kehangatan Surya meraba pagi menggugah mata Sang Elang.


PERSAHABATAN ELANG DENGAN BHIKSUNI      

( Bhiksuni) Salam Elang engkau benar – benar indah, ikutlah bersamaku akan kuantar kau melihat keseluruhan candi ini.

( Elang ) Sungguh bahagia hati ini boleh dirijku bertanya wahai bhiksuni kenapa diantara sekian Bhiksu penghuni Candi  hanya dirimu wanitadisini tidak adakah Bhiksuni yang lainnya?

( Bhiksuni) Kau benar Elang aku satu – satunya Bhiksu wanita disini. Dahulu ada Resi berkata bahwa diriku sebuah cahaya dari doa para Bhiksu, sejujurnya aku hanya berharap dapat selalu bahagia. Lihatlah Elang mereka sahabatku elang liar itu setiap pagi bermain dibawah sana.

(Elang ) Apa dirimu setiap pagi datang kesini ? kau seorang Bhiksuni apa dirimu tidak merasa kesepian? Tidak inginkah dirimu memiliki sahabat? Kau harus tau memiliki sahabat melebihi memiliki dunia dan segalanya kenapa kau putuskan jadi Bhiksuni kesepian sendiri kenapa kau tidak mau bahagia dan bebas?

(Bhiksuni) Karena aku mengagumi seorang Indra , beliau selalu sendiri beliau tak beristri dan selalu sendiri kenapa kau tidak bertanya pada sang Indra apa sekian lamanya Indra kesepian?

( Elang ) Tidak harus diriku jawab pertanyaan tidak masuk akal , lupakan saja bicarakan yang lain.

( Elang) Dasar Bhiksuni bodoh bagaimana mungkin seorang Indra kesepian aku punya segalanya aku mampu berbuat apa saja.

( Bhiksuni) Elang mengapa engkau diam? Ada apa? Boleh aku tau kau memikirkan apa?

(Elang) Ahh aku hanya kagum ketulusan hatimu menyembah sang Indra aku akan mencoba menjadi seperti mu. Diatas sana tuanku Indra sangatlah bahagia melihat kebaikan hatimu . Aku sedang berfikir di candi ini ada prasati sang Indra bahkan teratai sang Indra juga ada tapi kenapa mahkota Indra tidak dibuatkan?

( Bhiksuni ) Andai kami bisa itu mustahil mahkota Indra sangat sulit untuk dibuat tidak akan pernah ada manusia dapat membuatnya. Hanya Dewa Indra seorang. Surya Sudah berada diatas kepala sebaiknya kita kembali , waktunya untuk mengisi perutku, kita pasti sudah membuat panik paman Bhiksu, ayo elang kau boleh terbang mendahuluiku.
                 
Elang terbang dengan  indahnya melewati pepohonan di sekitar candi para Bhiksu tidak tersadar akan keberadaan Dewa Indra dalam tubuh Elang. Hari –hari dilalui  Elang dengan penuh cinta kasih menyadarkan elang akan artinya persaudaraan. Elang meyembunyikan jati diri, Elang lupa akan siapa sesungguhnya  tujuannya mencari keberadaan sang Bhiksuni . Alunan – alunan Kitab Weda dinyanyikan  Dewa Indra akan selalu hidup dihati mereka para Bhiksu.
                 
Tiba pada suatu pagi Elang pergi meninggalkan Candi tanpa pemberitahuan, bahkan Elang tidak mengucap apapun pada para Bhiksu, semua Bhiksu menyebar  keseluruh tempat keatas gunung  ke atas tebing bahkan ketengah tengah hutan para Bhiksu terus mencari kemana sesungguhnya Elang pergi? Dan kenapa sessungguhnya Elang itu pergi apa Elang lupa akan tugasnya?
                  
Elang kembali dan tinggal bersama para Bhiksu untuk waktu yang panjang sejak hari itu Elang menjalani kehidupan sebagai seekor burung bersama para Bhiksu. Elang percaya bahwa Bhiksu wanita ini yang dia cari , wanita ini yang akan mewujudkan keinginan Sang Elang . Dunia menyaksikan dan bumi mencatat keberadaan sang Indra di bumi, Indra hidup bagai orang lain lupa siapa sejatinya Dewa Indra. Kebahagiaan datang tawa canda air mata kian menghangatkan semua berawal akan datangnya Sang Elang Emas.
               
 Dewa Bumi tidak pernah menyadari bahwa Indra  ada bersama mereka, Surya Bayu mengiringi sang Raja menjalankan tugasnya di dunia. Indra punya mimpi dan Indra dapat memberikan kemurahan hatinya pada hambanya yang tak pernah ragu akan keberadaan Sang Maha Dewa Indra Rajanya para dewa . Indra Dewa pertama yang turun melakukantugas mulia . Begitu mulia hati sang Indra , karena Indra akan selalu dikenang untuk para Bhiksu. Para Dewa menyaksikan kebahagiaan Sang Indra untuk keberhasilan Indra pasti dapat melakukannya. Para dewa resah akan keadaan sang raja menunggu dan kian berharap, Sang raja memberi pesan waktu terus berlalu musim berganti tanpa Indra  Para Dewa sadar Indra meninggalkan Kayangan sudah sekian lama.



BATARA NARADA MENCARI DEWA INDRA
               
          Batara Narada ayah dewa Indra mengutus Dewa Vhisnu untuk mencari putranya, tanpa Indra istana bagai pengasingan, Dajjal pelayan setia dewa Indra hanya terdiam kala menunggu sang raja kembali . Kayangan bagai tak di huni seisi khayangan seolah kehilangan rajanya, teratai Sang Indra kosong tanpa pemiliknya. Dajjal abdi yang begitu menyayangi Dewa Indra lelah ia menunggu . Dajjal pun berlalu dari istana sang Raja . Dajjal tidak akan lelah menunggu kedatangan Sang Indra kembali  ia selalu berharap sang raja tidak lupa para saudara di atas langit air mata sang abdi menetes kala ingat suara indah sang raja.

(Dajjal) Tuanku saat ini berada dimana? Masih mungkinkah tuanku akan kembali? Hamba sangat kawatir akan keadaan tuanku saat ini , dibawah sana apakah tuanku bahagia . Tuanku kembalilah disini  engkau tinggalakan istana tempat utanku . Tuanku tau tempat ini bagai penantian tanpa cahaya, tuanku apa benar menemukan surga dibawah sana?

( Batara Guru ) Dajjal tidak ada surga dibawah sana , disana hanya ada ketenangan yang abadi, Indra pergi krn menginginkan ketenangan , Indra baik - baik saja kau tak harus khawatir.

( Dajjal ) Hamba mengerti batara Guru

( Vhisnu) Salam ayah , Ayah mohon berikan restumu beri ijin diriku mencari tuanku Indra.

( Batara Guru) Vhisnu putraku untuk apa dirimu mencari Indra, Indra dapat menjaga dirinya, Dia dewa yang hebat juga tangguh , baiklah karena ini keinginanmu  ayah izinkan.

(Vhisnu) Sungguh mulia hatimu ayah dengan segera Vhisnu pergi . Dewa Visnu turun dan mencari dimana Dewa Indra singgah. Setiap gunung ia singgahi Indra tidak pernah ada, Indra seolah menhilang. Dua puluh gunung sudah ia telusuri , satupun Vhisnu tidak dapat menemukan jejak langkah Dewa  Indra . Vhisnu terus mencari ia bertanya kepada bebatuan pepohonan dan para burung, satupun tak ada jawaban. Vhisnu mengakhiri perjalanan dan singgah di sebuah bukit yang terletak di Tanah Jawa . Sejak saat itu Vhisnu menetap dan tinggal di bukit dimana bukit itu bernama Gunung Lawu. Tempat  Vhisnu singgah untuk penantian ia mencari dewa Indra.


Bait Jangka Jayabaya  164 :

Putra kinasih swargi kang jumeneng ing gunung Lawu
hiya yayi bethara mukti, hiya krisna, hiya herumukti


                 
Sesungguhnya Vhisnu salah ada satu gunung yang ia lewatkan, diantara dua puluh gunung Vhisnu melewatkan satu gunung, tempat para Bhiksu bernaung kini sesampai di Khayangan Vhisnu kian menyadari kelalaian dirinya. Berfikirlah dalam lamunan, hati Vhisnu bicara mungkinkah Indra singgah di gunung sang  Budha tinggal? Mungkin benar Budha bukan pemuja Vhisnu , bukan mungkin Budha memuja Indra , seorang Indra tidaklah sembarangan mengambil langkah.
                 
Waktu tidak dapat berhenti waktu tidak dapat diulang semua tinggal penyesalan Dewa Vhisnu telah mengabaikan sesuatu, walau itu sangat tidak berkenan di hati. Rasa kehilangan di Khayangan tidak dapat menggugah hati Indra, Indra tidak kembali. Sejak saat itu dewa Indra tidak pernah kembali keatas khayangan, Indra akan selalu menjelma sebagai Elang sampai waktu itu datang .

Bersambung...
 
 




Tidak ada komentar: